Welcome to the junggle

"Aku dan Duniamu"

Selasa, 01 Desember 2009

Puisi"tembang lamunan"

Sepiku

Diri ini pemimpi

Hanya bisa bermimpi bayangkan diri, dalam kenikmatan ini

Diri ini sepi ,

Bila mentari kembali pergi

Aku hanya bisa mengisi kesepian ini

Aku merasa rindu akan rasa bahagia

Yang ada pada surya dan ingin itu tetap ada

Ingin diri miliki semua yang ada di bumi

Agar bisa temani jiwaku yang sepi_ by rams

Bisikan Kata

Bersamamu aku hidup, Bersamamu jiwa bahagia

Bersamamu kurasakan pahit dunia

Dunia bagaikan tempat terindah, Bumi laksana istana

Karena kau ada

Kaulah pelindung jiwa, Kaulah penyembuh luka

Kaulah aku hidup

Bila ada saatnya, Kan ku bisikkan

Kaulah sahabatku

Kau buat pelangi dihidupku

Warnai jiwa ini, Ukirkan kata terindah­_ by rams

Sabtu, 14 November 2009

Ilmu Kalam

Ilmu kalam
a. Sejarah Kemunculan Ilmu Kalam
Teologi Islam berbeda dengan teologi Kristen, tidak berkembang secara sistematis, tidak pula sebagai produk refleksi atau spekulasi teologis. Teologi (kalam) muncul atas reaksi perdebatan atau isu khusus yang tumbuh dalam konteks sosio-politik Islam awal. Lebih jauh dari itu, L. Esposito mengatakan dalam bukunya Islam: the Straight Paht ada beberapa isu yang memungkinkan munculnya ilmu kalam misalnya, berpisahnya Khawarij dengan Ali dikarenakan ketidak setujuan Khawarij dengan hasil tahkim antara Mu’awiyah dan Ali pada perang Siffin, polemik-polemik Muslim-Kristiani awal, dan masuknya pemikiran Yunani pada zaman Abbasiyah.
Dalam buku theology Islam (Ilmu kalam) karangan Ahmad Hanafi, secara ringkas disebutkan setidaknya ada tiga hal yang menjadi sebab berdirinya ilmu kalam. Sebab pertama, di dalam al-Qur’an sendiri menyinggung golongan-golongan dan agama-agama yang ada pada masa Nabi Muhammad s.a.w., yang mempunyai kepercayaan yang tidak benar. Di samping Tuhan membantah alasan-alasan dan perkataan-perkataan mereka bagi umat muslim tentu membuka jalan untuk mengemukakan alasan-alasan kebenaran ajaran-ajaran agamanya disamping menunjukan kesalahan-kesalahan golongan-golongan yang menentang kepercayaan-kepercayaan itu, dan dari kumpulan alasan-alasan itulah berdiri ilmu kalam. Kedua, munculnya pemikiran-pemikiran kaum muslimin dengan mempertemukan nas-nas agama yang kelihatannya saling bertentangan. Pemikiran ini muncul setelah kaum muslimin banyak membuka negara-negara baru untuk masuk Islam, mereka mulai tentram dan tenang pikirannya. Ketiga, disebabkan oleh persoalan-persoalan politik.
Sejalan dengan pemikiran L. Eposito dan Ahmad Hanafi, menurut Harun Nasution, kemunculan kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Utsman bin ‘Affan yang berlanjut kepada permasalahan antara Mu’awiyah dan Ali bin Abi Thalib. Permasalahan itu bertambah parah ketika Mu’awiyah menolak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib hingga berujung pada peperangan antar keduanya pada perang Shiffin. Perang Shiffin berakhir dengan diadakannya tahkim. Namun keputusan tahkim ternyata tidak semua pendukung Ali setuju, sehingga orang-orang yang merasa bahwa keputusan hanyalah milik Allah dengan kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, meninggalkan barisan Ali dan memandang bahwa Ali telah berbuat salah atas keputusan yang telah dibuatnya. Mereka orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib, dalam sejarah Islam, disebut sebagai Khawarij, yaitu orang-orang yang memisahkan diri.
b. Kerangka Berfikir Aliran-aliran Ilmu Kalam
Dalam kajian teologi atau ilmu kalam pada dasarnya tidak akan terlepas dari pebedaan-perbedaan pendapat yang menyangkut permasalahan teologi itu sendiri. Pada awal kemunculan ilmu ini telah dimulai dengan banyak perdebatan mengenai ketuhanan. Pemicu perbedaan pendapat diantara para mutakallim atau ahli kalam karena aspek subjek pembuat keputusan itu sendiri. Imam Munawwir mengatakan bahwa perbedaan pendapat di dalam Islam lebih dilatarbelakangi adanya beberapa hal yang menyangkut kapasitas dan kredibilitas seseorang sebagai figur pembuat keputusan. Pendapat ini berbeda dengan Umar Sulaiman asy-Syaqar yang menilai bahwa perbedaan dalam kalam lebih ditekankan pada tiga aspek, yaitu persoalan keyakinan (aqa’id), persoalan syariah, dan persoalan politik.
Perbedaan pendapat dalam aliran-aliran Ilmu Kalam sebenarnya berkaitan erat dengan metode berpikir dalam menguraikan objek pengkajian. Hasan Hanafi mengemukakan bahwa kajian ilmu kalam lebih ditekankan kepada cara berpikir rasional, oleh karenanya dalam menkaji dan memahami bukan metode induktif dan perseptif. Metode berpikir secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu kerangka berpikir rasional dan metode berpikir tradisional. Metode berpikir rasional memiliki prinsip sebagai berikut:
1. Terikat pada ayat qath’i (teks yang tidak diinterpretasikan lagi kepada arti lain, selain arti harfiahnya).
2. Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta memberikan daya yang kuat pada akal.
Adapun metode berpikir tradisional memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Terikat pada dogma-dogma ayat yang mengandung arti dhanni (teks yang boleh diinterpretasikan ke dalam arti lain selain arti harfiahnya).
2. Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.
3. Memberikan daya yang kecil kepada akal.
Selain pembagian di atas Muhammad Fazlur Rahman Ansari dalam Ilmu Kalam juga mengategorikan kerangka berpikir aliran-aliran ilmu kalam kepada empat kategori, yaitu:
1. Aliran Antroposentris, aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat intrakosmos dan personal. Manusia adalah anak kosmos. Orang yang tergolong dalam kelompok ini berpandangan negatif terhadap dunia karena dia menganggap keselamatan dirinya terletak pada kemampuannya untuk membuang hasrat dan keinginannya.
2. Teolog Teosentris, aliran teosentris menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat suprakosmos, personal, dan ketuhanan. Tuhan adalah pencipta segala sesuatu yang ada di kosmos ini. Aliran teosentris menganggap daya yang menjadi potensi perbuatan baik atau jahat manusia bias dating sewaktu-waktudari Tuhan. Oleh karena itu, adakalanya manusia mapu melaksanakan suatu perbuatan tatkala ada daya yang datang kepadanya.
3. Aliran Konvergensi atau statis, aliran konvergensi menganggap hakikat realitas transenden bersifat supra sekaligus intrakosmos, personal, dan intrapersonal, lahut dan nashut, makhluk dan Tuhan, sayang dan jahat, lenyap dan abadi dan sifat lain yang dikotomik. Aliran ini memandang bahwa manusia adalah tajalli atau cermin asma dan sifat-sifat realitas itu. Aliran ini juga berpandangan bahwa antara manusia dan Tuhan ada proses kerjasamadalam bentuk teknis. Sehingga ketika manusia tidak berpartisipasi dalam proses peristiwa yang terjadi pada dirinya, daya transcendental yang memproses suatu peristiwa yang terjadi pada dirinya.
4. Aliran Nihil, aliran ini menganggap bahwa realitas transcendental hanyalah ilusi. Aliran inipun menolak Tuhan yang mutlak, tetapi menerima berbagai variasi Tuhan kosmos.
c. Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf
Jika kita melihat ketiga ilmu ini ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf maka kita akan menemukan titik persamaan dan perbedaan ketiga disiplin ilmu ini. Titik persamaan ketiga ilmu ini adalah:
1. Objek kajian.
Objek ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dengan-Nya. Objek kajian filsafat adalah masalh ketuhanan di samping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. Sementara obje kajisa tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadapnya. jadi dilihat dari aspek objeknya, ketiganya membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.
2. Baik ilmu kalam maupun filsafat argumentasi keduanya di bangun di atas logika.
3. Baik ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan semua yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran baik tentang alam, manusia, ataupun Tuhan. Sedangkan tasawuf berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan peerjalanan spiritual menuju Tuhan.
Meskipun ketiga ilmu ini mempunyai persamaan dalam objek kajian dan tujuannya dalam mencari kebenaran, namun dalam metodologinya ketiganya mempunyai perbedaan. Ahmad hanafi menyebutkan setidaknya perbedaan antara ilmu kalam dan filsafat berkisar pada dua hal:
1. Mutakallimin lebih dahulu percaya kepada pokok persoalan dan mempercayai kebenarannya, kemudian menetapkan dalil-dalil pikiran untuk pembuktiannya. Sedangkan pembahasan dan pemikiran filsafat lepas dari kepercayaan-kepercayaan, dan dalam melakukan penyelidikan mereka menyusun dalil-dalil hinga mencapai suatu hasil. Kesimpulannya bahwa ilmu kalam disamping menggunakan dalil naqliyah berfungsi untuk mempertahankan keyakinan agama, yang sangat tampak nilai-nilai apologinya. Sementara filsafat sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional.
2. Dari segi pembinaanya, ada perbedaan antara ilmu kalam dengan filsafat. Dimana ilmu kalam berkembang berangsur-angsur dari mulai pembahasan persoalan dosa besar sampai munculnya mazhab-mazhab ilmukalam setelah berlalunya pembahasan mengenai hal itu. Sedangkan filsafat telah mengalmi fase pertumbuhan di Yunani ketika masuk kedalam dunia muslim filsafat telah lengakap atau hampir lengkap sehingga mereka tinggal mempertemukannya dengan kepercayaan-kepercayaan Islam.
Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Dalam itasawuf sering menggunakan bahasa yang aneh dan susah dimengerti oleh kebanyakan orang dikarenakan sebagai sebuah ilmu tasawuf yang prosesnya diperoleh dari rasa sangat bersifat obyektif. Dan bahasa rasa sangat susah diungkapkan kecuali dirasakan oleh orang yang mengalaminya sendiri. Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi yang dating dari Tuhan. Kebenaran yang dating dari tasawuf dikenal sebagai kebenaran khudhuri., yaitu kebenaran yang datangnya daridalam diri subyek sendiri.

Kamis, 22 Oktober 2009

kesalehan sosial

manusia diciptakan Tuhan dalam bentuk yang sempurna "fi ahsani taqwim". tapi manusia tidak akan mendapatkan keimanan yang sempurna manakala tidak peka terhadap sesamanya, bahkan secara tegas nabi menyebutkan ketidaksempurnaanya iman seseorang apabila dalam mencintai saudaranya (se-iman) tidak seperti mencintai dirinya sendiri,
"la yu'min ahadukum hatta yuhibbu liakhihi ma yuhibbu linafsihi"
masih banyak dalil serupa yang menjelaskan bahwa salah satu faktor kesenpurnaan iman seseorang ada pada interaksi sosial yang di bangun dalam masyarakat. karena dalam kehidupan nyata selain berinteraksi kepada Allah SWT (hablu minallah) dengan mengerjakan ritual ibadah yang diajarkan oleh Nabi manusia juga dituntut untuk dapat berinteraksi kepada sesamanya (hablu minannas) dengan akhlak dan perilaku yang baik sebagaimana ajaran Nabi dalam bermu'amalah terhadap sesama manusia. dengan demikian ini selaras dengan konsep yang di tawarkan oleh Islam dalam hidup di dunia yaitu "hablu minan nas wa hablu minallah"